Rasa penasaran yang tinggi akan tempat baru, rasa jenuh
akibat rutinitas yang padat, dan rasa yang sedikit lebay menuntut keluar dari
zona nyaman, membawa saya untuk wandering ke negeri ini.
Jam 11.10 berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau by
Li*n Air. Touched down at 12.30 di Bandara
Kuala Namu di Deli Serdang,Medan. Selain modal nekat, saya pun percaya diri
dengan adanya tuntunan dari mbah google beserta aplikasi google mapnya.
Berusaha menikmati setiap moment yang dilalui sambil sesekali selfie, maklum kid jaman now..😁
Keluar dari bandara saya berusaha menemukan transportasi
tujuan parapat. Niat hati ingin naik bis yang konon kabarnya biayanya lebih
irit. Sambil celingak celinguk kiri kanan berusaha menemukan bis yang saya cari,
saya didatangin seorang bapak-bapak, dengan logat Medannya bertanya “Mau kemana
adek ini..?” dengan polos tanpa ekspresi saya jawab “mau ke Parapat pak”, “naik
Nice Trans saja dek.. langsung ke parapat”. Ngobrol ngalor ngidul singkat
cerita ternyata Nice Trans adalah sebuah perusahaan Taxi.. Busset, ditawarin
naik taxi ke Parapat dengan jarak 175 km, boro-boro mau liburan saya pak..
Dijual semua yang saya bawa pun belum cukup buat bayar taxi.. Eits, ternyata
saya gagal paham.. Armada Nice Trans ternyata mobill minibus seperti Av*nza /
Xen*a. Jadi penumpangnya bisa mencapai 5 - 6 orang dengan tujuan yang sama.
Hanya harus sedikit bersabar sampai kuota penumpang mencukupi untuk berangkat.
Jangan khawatir soal harga, 80 ribu saja.
Cukup linu rasanya pantat duduk di mobil, dari membaca beberapa
plank merk, saya tau mobil sudah memasuki daerah parapat. Berhubung hari sudah
hampir gelap, saya minta diturunkan di kawasan yang masih terlihat ramai. Fix, hampir
6 jam perjalanan. Beberapa orang yang menyadari saya adalah pelancong,
menawarkan homestay mereka, berdasarkan info dari mbah google, kita bisa
menemukan penginapan-penginapan murah sekitaran parapat ini, saya memutuskan
untuk melihat salah satu penginapan yang ditawarkan, tidak begitu mewah, namun
saya rasa cukup nyaman. Dari beranda depan kamar, pemandangan malam danau toba
terlihat sangat jelas, cukup untuk menghilangkan penat setelah menempuh lamanya
perjalanan.
Jam tangan menunjukkan pukul 7.30 pm. I have to get something
to eat.. walaupun di penginapan saya bisa memesan makanan, seperti mie goreng
ataupun nasi goreng, tetapi saya memilih makan diluar, tidak jauh dari
penginapan saya menemukan penjual pecel ayam, masakan jawa.
Sekembalinya ke penginapan, sambil duduk memandang ke arah
danau toba, danau terbesar di Asia Tenggara. Nun jauh di tengah terlihat kerlap
kerlip lampu, saya tau itu adalah pulau Samosir, daerah yang akan menjadi
tujuan saya selanjutnya. Malam yang indah untuk beristirahat. Liburan hari
pertama berakhir dengan damai.
Jam 8.00 pagi. Dengan bantuan seorang tukang ojek saya
bersiap menuju pelabuhan Ajibata, pelabuhan ferri terdekat di parapat menuju
pulau Samosir. Kapal ferri disini berangkat dalam 30 menit sekali. Mulai jam
7.30 sampai jam 8.00 malam. Sambil menunggu kapal berangkat, saya pun sarapan terlebih dahulu di sebuah warung muslim di depan pelabuhan. Ongkos kapal 6 ribu rupiah untuk 45 menit berlayar. Sampai
di Pelabuhan Tomok, Samosir. Menggunakan jasa ojek lagi, tujuan utama saya
adalah daerah Tuk-tuk, kenapa Tuk-tuk ? Menurut info dari mbah Google, Kawasan
Ring Road Tuktuk merupakan Tourist
Information Center Kabupaten Samosir, petugas disini akan dengan senang
hati memberikan kertas informasi untuk dijadikan panduan kita berkelana. Selain
itu, di Tuk-tuk juga terdapat banyak hotel dan tempat rental kendaraan, baik
sepeda maupun sepeda motor. Hotel disini harganya cukup bervariasi mulai harga 40
ribu per malam.
Setelah booking penginapan dan menyewa sebuah motor, saya pun
berkeliling dengan panduan Tourist Map
yang di dapat dari petugas TIC. Tujuan pertama saya jatuh pada Batu Persidangan
Huta Siallagan, 5 km dari kawasan Ring Road Tuk-tuk. Sepanjang perjalanan
hanyalah kekaguman akan daerah ini yang terlintas dipikiran saya, beberapa kuburan tua yang dibangun dari batu dengan arsitektur khas batak terlihat di sisi kiri dan kanan jalan. Samosir, Negeri Indah Kepingan Surga.
Sepertinya kalimat itu memang pantas melekat pada daerah ini. Sebuah Kaldera
yang terbentuk akibat letusan gunung sekian ribu tahun yang lalu membentuk
sebuah pulau di tengah Danau Toba.
Sesampai di Chair Stone Huta Siallagan, membayar tiket 3 ribu
rupiah. Disisi kiri berderet tujuh buah bangunan rumah adat khas batak yang
masih dihuni masyarakatnya, dan salah satunya merupakan museum tenun batak.
Disisi kanan, sebuah bangunan yang didepannya ada patung Sigale-gale. Jika kamu mau, kamu bisa meminta petugas disana untuk
membuat patung sigale-gale menari hanya dengan memberikan donasi seikhlasnya,
dan kamu juga akan diajak ikut serta menari tarian khas batak. Sebuah
pengalaman yang sungguh mengesankan.
Setelah puas berkeliling, keluar dari lokasi ini kita harus
melewati deretan toko-toko penjual ulos dan souvenir khas batak. Kamu bisa
membeli beberapa pernak-pernik untuk oleh-oleh. Harganya pun murah meriah,
tawarlah sekedarnya saja.
Tujuan saya selanjutnya adalah Objek Wisata Budaya Museum Huta Bolon Simanindo.
Tujuan saya selanjutnya adalah Objek Wisata Budaya Museum Huta Bolon Simanindo.
Tunggu cerita selanjutnya di TRIP KE SAMOSIR PART II
Terimakasih...;)
BalasHapusMantap
BalasHapusTerimaksih..;)
HapusCool
BalasHapus