TRIP PANJAT TEBING KE KRABI THAILAND PART I





Bagi orang biasa seperti saya bisa jalan-jalan keluar negeri tentunya merupakan suatu hal yang istimewa. Apalagi sebagai pencinta olahraga panjat tebing, bisa memanjat di luar negeri juga suatu hal yang sangat luar biasa. Ini kisah perjalananku mengunjungi salah satu surga bagi pemanjat tebing yang berada di negara Thailand, yaitu Pantai Tonsai dan Railay, Krabi.
Bersama 2 orang teman, Pita dan Eka yang juga pemanjat tebing, kami berencana mengunjungi Krabi Thailand pada akhir Januari 2019. Mengambil penerbangan pertama pukul 8.30 WIB dari Padang - Kuala Lumpur menggunakan Maskapai Low Fare Airasia, kebetulan juga lagi promo, hehe... Masih dengan Airasia tentunya, sore pukul 17.05 (waktu KUL) pada hari yang sama kami juga mengambil penerbangan dari KUL - Krabi. Jadi kami stay beberapa jam di KLIA2 sambil menunggu keberangkatan menuju krabi. 

Ujung penantian akhirnya kami sudah dipesawat tujuan Krabi, kami begitu excited. Menempuh waktu ± 1 jam 20 menit dari Kuala Lumpur, pukul 17.25 kami sudah mendarat di Krabi International Airport. Oh ya, waktu di Thailand sama dengan WIB, jadi gak perlu bingung deh liat jam tangan karna waktunya sama. Kami berjalan menuju pemeriksaan Imigrasi untuk cap passport dan menyerahkan Travel Card yang sudah diisi saat di pesawat, petugas imigrasi akan menyerahkan potongan travel card pada kita, dan potongan ini jangan sampai hilang, karna saat kita keluar Thailand, potongan travel card ini akan diminta kembali oleh petugas imigrasi, agar gampang diingat sebaiknya biarkan tetap tersimpan di dalam passport.


      


Setelah cap passport dan melewati proses imigrasi yang tergolong lancar, sebelum pintu keluar bandara, saya membeli Simcard Thailand seharga 100* bath, minta petugas counter untuk langsung mengaktifkannya, tak perlu khawatir soal bahasa, orang-orang disini masih banyak yang pandai bahasa melayu. Bersebelahan dengan counter Simcard, ada loket bis bandara. Kami membeli tiket menuju pantai Ao Nang seharga 150 bath per orang. Pantai Ao Nang adalah lokasi terdekat untuk menuju Tonsai dan Railay. Keluar dari pintu bandara, dan bisnya berada di sebelah kiri, bilang saja tujuan kita pada kondekturnya, sebelum naik bis mereka akan bertanya kemana tujuan kita, jika kita sudah booking hotel sebelumnya maka bis akan berhenti di hotel tempat kita menginap, asik sekali bukan ?! Tanpa menunggu lama bisnya sudah melaju, ditengah perjalanan bis berhenti, penumpang yang memegang tiket warna merah akan turun dan pindah ke minivan karna tujuan yang berbeda, dan pindah ke minivan ini tidak dikenakan tambahan biaya, ini adalah bagian dari layanan. Dan bagi kami penumpang dengan tiket warna kuning, tetap duduk di bis untuk melanjutkan perjalanan. 


Patung ikan tempat kami turun dari bis
Lebih kurang satu jam, bis sudah sampai di Ao Nang, karna kami belum booking hotel, jadi kami turun di dekat Pantai Ao Nang Saja. Hari sudah gelap saat kami sampai di Ao Nang, kami memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu sekalian melihat-lihat tempat untuk menginap, maklum belum makan dari siang. Kami berhenti di salah satu restaurant berlabel halal, saya memesan nasi goreng ayam seharga 80* bath. Sambil makan, kami coba mencari penginapan melalui situs booking.com yang bisa bayar di tempat, dapat penginapan sekitar 1 km dari lokasi restaurant tempat kami makan, Moment Hostel namanya, kami pilih dormitory mix seharga 252 bath per orang/malam. Kami memutuskan untuk menginap di Ao Nang dulu malam ini. Sebenarnya kami bisa saja menyeberang ke Tonsai, tapi dari info yang aku baca, jika malam hari kita harus menunggu cukup lama untuk boat terisi penuh atau jika kuota penumpang boat tidak mencukupi, maka kita harus bayar lebih. Selesai makan, kami berjalan menuju Hostel menggunakan petunjuk google map. Ramai sekali orang berlalu-lalang di jalanan Ao Nang ini, didominasi oleh turis mancanegara, disepanjang jalan juga banyak terdapat bar, toko baju dan bikini juga toko souvenir khas Thailand.



Setelah berjalan beberapa lama akhirnya kami sampai di Moment Hostel, dan ternyata persis di hadapan Hostel tersebut terdapat food center yang menjual berbagai menu dengan harga yang lebih murah dari makanan yang kami pesan tadi,hhh..tak apalah, yang penting perut sudah kenyang. Setelah melakukan reservasi di resepsionis, mereka mengantar kami ke kamar, ada 4 tempat tidur bertingkat di ruangan tersebut, artinya untuk isi 8 orang, kita memilih tempat yang masih kosong. Ada loker di ruangan tersebut untuk menyimpan barang-barang tetapi kita harus membawa kunci sendiri. Saat kami masuk, ada seorang tamu di ruangan tersebut, kami berkenalan singkat, seorang laki-laki warga negara Amerika - Israel, Yuval namanya dan beruntungnya dia juga seorang pemanjat tebing. Kami bercerita bahwa kami akan menuju Tonsai besok paginya, ternyata dia juga akan menuju kesana. Kita hanya mengatakan semoga besok kita bertemu di Tonsai. Hari ini berakhir indah untuk istirahat dengan tenang.

Suasana di depan Moment Hostel di Pagi Hari
Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, eh.. malah nyanyi. Pagi sekitar jam 7.00, kami sudah selesai bereskan barang-barang untuk siap-siap berangkat menuju Tonsai, rencananya kami sarapan di Tonsai saja. Setelah check out dari Hostel, kami berjalan menuju pantai Ao Nang lagi untuk naik boat menuju Tonsai. Dalam perjalanan ke pantai Ao Nang kami membeli beberapa buah-buahan untuk mengganjal perut, kalau-kalau nanti lama dapat sarapan di Tonsai. Sampai di loket penjualan tiket boat, cukup ramai disana. Aku memesan 3 tiket menuju Tonsai, harga 100 bath per orang. Boatnya berada di pantai seberang jalan loket penjualan tiket, menunggu sekitar 5 menit lalu kita disuruh naik ke boat. Boat disini berjenis long tail boat atau boat berekor panjang dengan suara mesin yang cukup memekakkan telinga. Hanya dalam 15 menit saja kami sudah berlabuh di Tonsai.



Saat pertama menginjakkan kaki di Tonsai, kami disambut oleh pemandangan yang menakjubkan, dinding-dinding batu di sepanjang garis pantai. Sambil berjalan menyusuri pantai untuk cari info penginapan. How lucky us, kami berjumpa dengan beberapa teman pemanjat dari Bandung di depan Freedom Bar, kami bertanya dimana mereka menginap, salah satu dari mereka mengantar kami ke penginapan, berjalan kaki menjauhi pantai sekitar 10 menit. Sampailah di penginapan mereka, Country Side Hostel namanya, beruntung masih ada kamar kosong, setelah tawar menawar akhirnya mentok di harga  200 bath per malam untuk kami bertiga, cukup murah bukan. Kami booking untuk 3 malam.



Penginapan ini sejenis bungalow, sebuah gubuk kayu dengan dinding anyaman bambu, satu tempat tidur ukuran besar, kamar mandi ada di dalam, sebelum pintu masuk ada semacam teras untuk bersantai, gubuk yang sangat sederhana sekali. Tak masalah, bukankah kami hanya butuh tempat untuk istirahat. Setelah menata barang-barang kami membeli sarapan di depan Bungalow, Warung Mama’s Kitchen. Menunya banyak, dan harganya lebih murah dibandingkan di Ao Nang, dan rasanya juga lezat. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan.


Ini penampakan bungalownya..hihihi..
Sehabis sarapan, kami kembali ke bungalow, hari ini kami berencana cek jalur pemanjatan, syukur-syukur bisa dipanjat, sambil nenteng alat-alat, kami kembali ke arah pantai dan berjumpa lagi dengan teman-teman dari Bandung yang tengah melakukan pemanjatan di Jalur dengan grade sulit, mereka terlatih. Kami bertanya tentang lokasi jalur-jalur mudah yang memungkinkan untuk kami panjat hari ini, mereka mengarahkan kami menuju perbukitan, yang mana perbukitan ini ada jalan setapak menuju Pantai Railay. Ramai sekali orang yang memanjat tebing disini, lagi-lagi di dominasi oleh turis mancanegara, apalagi di jalur-jalur yang terbilang mudah, kita harus antri untuk mendapat giliran memanjat. Kami tidak punya Climbing guide book atau topo, jadilah harus banyak bertanya. Kami memutuskan memanjat di salah satu jalur, terlihat mudah di pandang, faktanya, hehe... Setelah susah payah berjuang, itupun saya dan Eka sudah bergantian, hanya terpasang 4 runner saja dari 8 bolt yang dia punya, kami meminjam guide book milik pemanjat disebelah jalur kami, ternyata grade jalur yang kami panjat adalah 7a. Hahaha... diluar espektasi. Tadinya mau manjat jalur 5a.


Jalur 7a yang kami panjat gaya-gaya an..
Kita gak mau habis tenaga disini, kami kembali dan mencari jalur yang lebih mudah. Kami menuju tebing yang dikenal dengan nama Fire Wall. Untuk menuju kesini jalannya sedikit nanjak, dan agak curam. Tapi disini ramai juga. Memang banyak jalur mudah disini, saat kami sampai, jalur-jalurnya masih ada yang memanjat, sambil menunggu, kami berjalan-jalan sekitar kaki tebing sambil foto-foto. Dari atas sini, terlihat pemandangan Pantai Tonsai dan Railay serta ke laut lepas yang menakjubkan.



Kami sudah mendapat giliran di salah satu jalur, saya mencoba leading di jalur tersebut, jalur ini cukup mudah sebenarnya, tapi entah rasa takut yang berlebihan atau karna power sudah terkuras di jalur 7a tadi (alasan), akhirnya gagal juga.haha. Jauh-jauh ke Thailand manjatnya cuma kaya gini, hadeuuh.. sedih. Tapi saya gak boleh nyerah, masih ada 3 hari lagi disini. Setelah bergantian memanjat, kami memutuskan untuk kembali ke bungalow,karna sudah agak sore, istirahat dulu saja hari ini, mungkin kita lelah..hihi.

Ketika sampai di pantai kembali akan menuju bungalow, kami bertemu dengan Yuval, room mate kami saat di Ao Nang tadi malam. Aku bercerita tentang pemanjatan kami hari ini, saat tengah mengobrol datang seorang wanita menyapa kami, dia baru saja sampai di Tonsai, dia menanyakan tentang penginapan, kami berkenalan. Namanya Lena dari Rusia, dia juga seorang pemanjat tebing. Lena sempat bertukar kontak dengan Yuval, karna kami akan kembali ke bungalow juga, jadi kami ajak Lena ke tempat kami, ternyata masih ada pondok yang kosong untuknya, dia booking untuk seminggu.

Sore harinya saya dan Lena pergi ke pantai untuk menikmati sunset. Sekembalinya dari pantai, setelah mandi dan bersih2, kami janjian makan malam di warung Mama's Kitchen, kami memesan 1 porsi Mango Sticky Rice dan Juice Mangga Lassi, satu piring kami share berdua, kata Lena biar irit, haha. Enak sekali makanan disini. Selesai makan malam kami duduk di bar, kebetulan bungalow kami ada barnya, Monkey's Bar namanya, dilihat dari namanya mungkin bar ini diprioritaskan untuk para pemanjat..hehe. Pemilik bar sekaligus pemilik bungalow ini orangnya baik, malam ini dia mentraktir kami makan bersama, dia juga memberi kami beberapa minuman ringan, kami bisa menyetel musik kesukaan kami disini. Kami juga mengundang Yuval untuk bergabung, padahal penginapannya cukup jauh dari tempat kami, tapi ternyata dia bersedia datang. Kami mengobrol banyak satu sama lain, ditambah ada satu kenalan lagi seorang laki-laki dari Rusia juga, masih muda, Ivan namanya, dia traveling dengan membawa tenda, dan malam ini dia menumpang nginap di bar ini, dia bukan pemanjat tebing. Kami semua janjian untuk manjat bareng esok paginya, Ivan pun ingin ikut. Malam ini berakhir meriah.


*Nilai tukar mata uang Thailand Bath terhadap Rupiah saat itu 1 bath = 450 rupiah





OBJEK WISATA DI PULAU BINTAN YANG TAK BOLEH DILEWATKAN


 

Pulau Bintan adalah sebuah pulau yang termasuk kedalam Provinsi Kepulauan Riau. Meskipun Ibu Kota Kepri berada di Pulau Bintan yaitu di Kota Tanjung Pinang, namun Pulau Bintan tak sepopuler Pulau Batam. Kota Tanjung Pinang yang menjadi pelopor bahasa melayu ini menyimpan banyak sejarah dan surga tersembunyi yang layak masuk bucket list untuk dikunjungi. Kota Tanjung Pinang ini dihuni oleh masyarakat tionghoa terbesar kedua di Indonesia setelah Bangka Belitung.

Berikut ini adalah lokasi - lokasi yang tak boleh terlewatkan bila berkunjung ke Pulau Bintan.

1. LAGOI BAY
Kawasan Lagoi di Pulau Bintan memang dikenal sebagai kawasan eksklusif dengan resort-resort mewah yang menawarkan private beach. Lagoi Bay adalah salah satu kawasan pantai dengan pasirnya yang putih. Sepanjang bibir pantai juga tumbuh pepohonan yang dapat digunakan untuk bersantai menikmati deburan ombak. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke kawasan ini, alias gratis.


2. DANAU LAGOI
Danau Lagoi berada tidak jauh dari kawasan Lagoi Bay, hanya berjarak 500 meter sebelum kawasan Lagoi Bai. Danau ini sangat tenang dan indah dengan ditanami pohon palm di pinggir danau. Disekeliling Danau juga terdapat Running Trail yang dapat anda gunakan untuk berolahraga.Masuk ke kawasan Danau ini juga tidak dipungut biaya tiket.


3. TREASURE BAY BINTAN LAGOI
Jika berkunjung ke Bintan, tentunya tak kan lengkap bila tidak mengunjungi Treasure Bay, sebuah kawasan wisata elite dengan Kolam Renang terbesar se Asia Tenggara yakni seluas 6,3 ha. Dengan membayar 100 ribu rupiah untuk tiket masuk ditambah deposit untuk menggunakan wahana di dalam kawasan, jumlah deposit ini tergantung yang anda inginkan, jika tidak habis anda pakai maka sisa uang anda akan dikembalikan. Hal yang dapat anda lakukan di Treasure Bay ini antara lain berenang di kolam yang jernih dan berwarna kebiruan, bermain kayak, dan bermain wahana air lainnya, atau keliling kolam dengan scooter atau segway serta menginap di cannopy hotel dan lain sebagainya.

 

4. PANTAI TRIKORA
Pantai alami dengan pasir putih yang memiliki ombak yang landai di tambah ornamen bebatuan yang bersusun indah di pinggir pantai. Berhubung saat berkunjung kesini air laut sedang surut, jadi hasil jepretan tak terlalu maksimal.. hehe. Untuk menikmati pantai ini sepuasnya tidak dipungut biaya tiket.


5. VIHARA AVALOKITESVARA GRAHA
Sebagai kota dengan penduduk Tionghoa terbesar kedua di Indonesia setelah Bangka Belitung, Pulau Bintan memiliki banyak Vihara umat Buddha yang dapat dikunjungi wisatawan. Salah satu Vihara yang populer adalah Vihara Avalokitesvara Graha yang disebut sebagai Vihara terbesar se-Asia Tenggara. Vihara ini berada sekitar 14 km dari pusat Kota Tanjung Pinang. Vihara Avalokitesvara Graha diresmikan oleh Menteri Agama RI pada bulan Juni 2009. Selain menjadi Vihara terbesar se-Asia Tenggara, hal istimewa yang dari Vihara ini ialah terdapat patung Dewi Kuan Yin Phu Sha dalam posisi duduk yang dinobatkan oleh MURI sebagai patung Dewi Kuan Yin terbesar yang ada dalam ruangan utama Vihara. Tinggi patung mencapai 16,8 meter dan dilapisi emas 22 karat. Selain itu juga terdapat patung dewa-dewi setinggi 3,5 - 4 meter yang berjejer di sisi kiri dan kanan ruangan utama menghadap patung Dewi Kuan Yin. Berkunjung ke Vihara ini tidak dibebankan tiket masuk, dan harap menghormati jemaat di Vihara jika kebetulan ada yang sedang berdo'a dengan tidak bersuara apalagi membuat keributan..heeh.


 

6. VIHARA KSITIGARBHA BODHISATTVA
Selanjutnya ada Vihara Ksitigarbha Bodhissattva, susah ya nyebut namanya.. hehe. Oke, kita sebut saja Vihara ini dengan Vihara Patung Seribu. Vihara yang baru diresmikan pada februari 2017 ini begitu megah dengan gapura batu ciri khas Tiongkok. Di bagian depan setelah melewati gapura, berdiri kokoh sebuah patung berukuran raksasa. Tembok di belakang patung tersebut dibuat menyerupai benteng dengan pagoda di puncaknya. Kita harus berbelok ke belakang patung untuk dapat masuk ke area Vihara, begitu memasuki kawasan tersebut kita akan dibuat kagum dengan deretan ratusan patung yang berjejer rapi layaknya patung tentara teracotta. Walaupun dinamakan Vihara Patung Seribu, namun jumlah patung disini hanya sebanyak 500 buah patung. Yang unik dari patung-patung tersebut adalah ekspresi dan pakaian yang berbeda-beda setiap patungnya. Pengunjung akan dikenakan biaya tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah. Vihara ini buka setiap hari kecuali hari Senin.

 
    

7. VIHARA DI SENGGARANG
Senggarang merupakan sebuah Desa di Tanjung Pinang yang juga terdapat banyak Klenteng, kawasan ini banyak dihuni oleh masyarakat Tionghoa. Di Klenteng Desa Senggarang ini juga terdapat banyak patung unik dan lucu salah satunya adalah patung Biksu Tong beserta pengawalnya. Masuk kawasan ini juga tidak dikenakan tiket masuk.

 

8. LAMAN BOENDA
Laman Boenda adalah sebuah taman wisata kota di Tanjung Pinang berada di tepi laut yang dekat dengan Pelabuhan Ferry Sri Bintan Pura. Di dalam kawasan ini juga berdiri Gedung Gonggong.
 


9. TUGU GONGGONG
Gonggong adalah sejenis Siput Laut yang banyak terdapat di Pulau Bintan. Sekilas tak ada yang istimewa dengan tugu ini, berukuran kecil dan berada tidak jauh dari taman wisata Laman Boenda, yang membuatnya istimewa adalah karna Gonggong ini merupakan Ikon dari Kota Tanjung Pinang.


10. AKAU POTONG LEMBU
Terakhir yang tak boleh terlewatkan jika mengunjungi suatu daerah tentunya mencoba kulinernya. Akau Potong Lembu merupakan pusat wisata kuliner yang begitu terkenal di Tanjung Pinang. Berada di Jalan Potong Lembu, Tanjung Pinang. Berbagai macam kuliner nusantara dan Chinese food ada disini. Ciri khas dari tempat ini adalah sajian makanannya yang segar terutama untuk jenis seafood. Para penjual kuliner disini juga di dominasi oleh warga Tionghoa. Masuk ke kawasan ini anda bebas duduk di meja mana yang anda sukai kemudian pesan makanan yang anda mau dan anda harus membayar pada saat pesanan datang.

Itulah beberapa lokasi yang sayang untuk dilewatkan jika berkunjung ke Pulau Bintan.

Untuk sekedar tips bila anda berkunjung ke Pulau Bintan, disarankan untuk menyewa mobil atau sepeda motor mengingat jarangnya transportasi publik di daerah ini. Jika anda berkunjung ke Pulau Bintan via Batam, pilih ferry yang menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura (recommended : Ferry Baruna Oceana) Kota Tanjung Pinang begitu juga sebaliknya, harga tiket 57.500 rupiah ditambah Boarding Pass 5000 rupiah.

Semoga artikel ini bermanfaat, dan terimakasih bagi yang share..

BACA JUGA :  TRIP MURAH KE SAMOSIR

TRIP MURAH KE SAMOSIR PART II



 

Setelah puas keliling di Stone Chair Huta Siallagan pada TRIP KE SAMOSIR PART I, perjalanan dilanjutkan menuju Museum Budaya Hutabolon Simanindo, berjarak sekitar 20 km dari Stone Chair Huta Siallagan. Sepanjang perjalanan menuju Museum, di beberapa lokasi dipinggir jalan masih terlihat kuburan-kuburan tua arsitektur khas batak, ada juga kuburan yang terlihat baru dan mewah dengan ciri khas salib dibagian pusara. Dengan pemandangan Danau Toba disisi kanan, perjalanan tak terasa melelahkan. Lalu lintas juga tak terlalu ramai, hanya sesekali bertemu pengendara lain.

Sekitar 3 km sebelum Museum Hutabolon, ada lokasi wisata  bernama Pantai Sibolazi, Pantai ? emang di laut. ? iya, di Danau Toba ada pantai loh.. Masyarakat sekitar Danau Toba menyebut pinggiran danau dengan Pantai. Banyak Pantai di Pulau Samosir ini yang dijadikan sebagai objek wisata, bahkan pantai disini juga difasilitasi beberapa wahana air seperti banana boat, jet ski dan sebagainya. Tapi tentu saja kamu tidak bisa berharap akan menemukan ombak disini, yang ada cuma riak kecil air danau karna hembusan angin.  Kamu bisa mampir sebentar di Pantai Sibolazi ini untuk membeli minuman atau sekedar selfie. Setelah dirasa cukup, perjalanan saya lanjutkan, gas tipis sambil bersiul biar terlihat lebih bahagia.. hehe.

  

Ditengah perjalanan, saya melihat sebuah menara diatas bukit disisi kiri jalan bertuliskan Simanindo, memutuskan untuk mampir sepertinya menara tersebut baru selesai dibangun ,saya pun duduk di bawah sebatang pohon yang tidak begitu rimbun tetapi cukup teduh di depan menara, pemandangan kearah Danau Toba lebih leluasa dan indah, terlihat beberapa kapal penumpang berlalu lalang di tengah danau, sepertinya saya cukup dekat dengan pelabuhan. Damai sekali berada disana, cuaca panas dan tiupan angin dari arah danau membuat saya menguap beberapa kali, berasa ingin tidur. Tak ingin menghabiskan lebih banyak waktu disana dan setelah mengambil beberapa foto saya pun melanjutkan perjalanan.

 
Tak lebih 15 menit akhirnya sampai di tempat yang dituju, Museum Budaya Hutabolon Simanindo disisi kanan jalan,. Tampak sepi, hanya  1 atau 2 orang pengunjung terlihat, mungkin karna saya datang bukan pada hari libur. Harga  tiket masuk 10 ribu rupiah, di sisi kanan gerbang Huta Bolon, kita bisa melihat beberapa makan raja batak beserta keluarganya dengan arsitektur yang begitu khas. Disisi kiri ada sebuah museum sederhana, berisi beberapa peninggalan leluhur orang batak, beberapa foto jadul jaman kerajaan Batak, juga beberapa motif tenun ulos, dan peralatan lainnya seperti senjata dan perkakas.
 

Sebuah kebetulan saat saya berada disana, ternyata ada kunjungan dari Wakil Bupati  Samosir Bapak Ir. Juang Sinaga ke kawasan tersebut, mungkin karna melihat ada seorang wanita manis di dalam museum, beliau pun mampir untuk menyapa saya..hehe. Kesempatan itu pun tak saya sia-siakan dengan berfoto bersama beliau (sebenarnya beliau yang minta foto sama saya..😁😁). Bersama Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir, beliau pun menjelaskan masih banyak objek wisata menarik lainnya di Samosir yang wajib dikunjungi, bahkan ada beberapa tempat yang mereka sebutkan tidak ada di Tourist Map yang saya pegang, tentu saja saya mengiyakan. Setelah ngobrol – ngobrol beberapa menit, beliau pun pamit dan saya pun melanjutkan untuk menuju Huta Bolon.

  

Huta merupakan sebuah kampung tradisional orang batak jaman old , dan Bolon berarti Rumah Raja. Jadi Huta Bolon mungkin berarti perkampungan Raja dalam suatu marga beserta keturunannya.   Huta ini dikelilingi benteng dan pohon bambu untuk melindungi kampung dari musuh, kampung ini hanya mempunyai satu pintu gerbang, jadi jangan coba berfikir untuk memanjat benteng apalagi pohon bambu ya.. hehe. Rumah di dalam kampung ini berjejer di sisi kiri dan kanan dari Rumah Raja.

 

 

Di hadapan rumah tersebut terdapat bangunan yang berfungsi sebagai lumbung yang dinamakan Sopo. Diantara rumah dan Sopo ada halaman yang cukup luas yang dahulu kala dipakai untuk berbagai pesta adat. Rumah Raja disini telah dijadikan museum, didepannya terdapat patung sigale-gale dan patung saudara perempuannya. Berhubung saya berkunjung tidak pada jadwalnya, jadi saya tidak sempat menyaksikan pertujukan tarian sigale-gale ini. Jadwal pertunjukannya setiap hari ada 2 kali pertunjukan yaitu pada jam 10.30 – 11.45 WIB dan 11.45 – 12.10 WIB, kecuali pada hari besar/minggu jadwalnya hanya 1 kali saja yaitu  jam 11.45 – 12.30 WIB . Dan untuk menyaksikan pertunjukan patung sigale-gale ini kita harus membayar 50 ribu rupiah.

 


Asik berkeliling ternyata sudah jam 2 siang, perut yang baru diisi dengan sarapan pagi sudah mulai keroncongan, saya pun keluar dari Huta Bolon bermaksud mencari rumah makan. Setelah berapa lama berkendara, saya hanya melihat rumah makan khas batak, dan tidak menemukan rumah makan muslim, akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa biskuit dan air mineral saja. Karna pada umumnya rumah makan muslim ada di kawasan Ring Road Tuk-tuk, tidak memungkinkan bagi saya kembali ke Tuk-tuk hanya untuk makan siang.  Sekitar 2 km dari  Museum Hutabolon Simanindo, ada kawasan wisata Pantai Batu Hoda, saya pun berhenti disana sambil mencari tempat yang pewe untuk makan biskuit. Masuk ke pantai ini tidak dipungut biaya alias gratis asalkan bisa menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah seenaknya. Entah berapa biskuit habis hingga perut terasa kenyang, inilah resiko sebagai wanderer, tetapi saya sangat menikmatinya. Suasana disini begitu sunyi, hanya terlihat beberapa remaja bermain dipinggir danau. Sepertinya pantai ini jarang dikunjungi sehingga masih terlihat asri. Pepohonan rindang dan bebatuan di pantai ini juga banyak ditumbuhi bunga-bunga liar. Samosir Negeri Indah Kepingan Surga.

 


Cukup lama saya berada disini, matahari pun sudah mulai condong ke arah barat, mungkin bisa melanjutkan satu atau dua objek wisata lagi sebelum kembali ke Tuk-tuk. Terlihat di Tourist Map sekitar 8 km dari Pantai Batu Hoda, ada Pantai Situngkir dan Pantai Parbaba. Agak berbeda dari Pantai Batu Hoda, Pantai Situngkir dan Parbaba ini terlihat lebih ramai, pasirnya putih dan banyak wahana permainan air juga. Disini juga tersedia jogging track dan penginapan yang menghadap ke pantai. Lokasi yang indah menghabiskan senja. Matahari sudah kembali ke peraduan, saya pun memutuskan kembali ke penginapan di Tuk-tuk untuk beristirahat. Tak banyak tempat yang saya singgahi hari ini, tetapi kenyamanan yang saya dapatkan sungguh luar biasa. Hari kedua berakhir indah.

FESTIVAL PANJAT TEBING LEMBAH HARAU SUKSES

Salah satu hasil foto dalam lomba photography lembah harau
Festival Panjat Tebing Nasional, Parade  Acoustic Dan Lomba Photography Lembah Harau yang bertema “ALEK PANDJEK TABIANG HARAU 2017 “  berakhir Sukses setelah ditutup secara resmi oleh Bupati Lima Puluh Kota Bapak Ir.H.Irfendi Arbi, MP. Sebelumnya, event yang digelar meriah oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lima Puluh Kota bersama Komunitas Merah Putih Lembah Harau yang berlangsung tanggal 17 - 19 November 2017 ini juga dibuka secara resmi oleh Bupati Lima Puluh Kota dihadiri Kepala SKPD dan para undangan lainnya. Event ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Berbagai macam tarian daerah juga ikut ditampilkan dalam event tersebut
Festival Panjat Tebing dilaksanakan dalam 4 kategori, yaitu Kategori Spider Kids Putra / Putri, dan Kategori Umum Putra / Putri. Seluruh peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini berhubung kegiatan ini baru pertama kali diadakan di tebing alam. Parade akustik juga diikuti berbagai grup musik dengan penampilan yang memukau, begitu juga dengan photography yang diikuti fotografer-fotografer handal dengan hasil foto yang luar biasa indah.

Finalis Spider Kids Putra pada Kategori Panjat Tebing
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan rasa terimakasih yang dalam terhadap Komunitas Merah Putih Lembah Harau yang berinisiatif menyelenggarakan kegiatan seperti ini dan rasa bangga dan apresiasinya terhadap anak negeri yang mampu berkarya dan berkegiatan positif. Seperti yang kita ketahui, Lembah Harau adalah salah satu daerah wisata populer di Sumatera Barat bahkan dikenal oleh mancanegara. Sudah selayaknya kegiatan ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya dan Mancanegara umumnya.

Pada acara pembukaan event ini juga turut di hadiri Kepala KSDA Sumatera Barat Bapak Erly Krismanto beserta istri dan rombongan, yang mana beliau juga sangat mengapresiasi adanya kegiatan ini. Beliau juga mengingatkan untuk selalu mematuhi peraturan yang ada dan menjaga kelestarian Alam mengingat Lembah Harau juga merupakan kawasan Cagar Alam.

 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lima Puluh Kota dan Kepala KSDA juga mencoba memanjat tebing secara simbolis sebagai tanda dibukanya event Alek Pandjek Tabiang Harau 2017 secara resmi, setelahnya ditampilkan juga aksi dari seorang pemanjat tebing wanita, memanjat dan mengembangkan sebuah spanduk bertuliskan “DARI HARAU MENUJU DUNIA”.

 

Pada akhir sambutannya, Bupati menambahkan bahwa kegiatan ini akan dijadikan sebagai agenda tahunan Kabupaten Lima Puluh Kota untuk kedepannya, dan tidak menutup kemungkinan kegiatan ini akan berskala Internasional. Amiin. Semoga.

Kegiatan ini ditutup dengan pemberian hadiah kepada seluruh pemenang oleh Bupati Lima Puluh Kota.


Bupati Lima Puluh Kota Foto Bersama dengan Seluruh Pemenang